Wednesday, January 6, 2016

Pahit Manis

Rabu, 06 Januari 2016

Oleh Teuku Mukhlis




















Ilustrasi (getty images)

Matahari hampir masuk dalam peraduanya, ia berangsur turun perlahan-lahan hingga gelap panca  cahaya yang semula terang menerangi bumi, merah-merah jingga mulai terlihat di ujung pantai Alue Naga, aku pulang dari pesisir nan riuh dan dipenuhi oleh kaum hawa itu, sampai di rumah si T aku sejenak merebahkan diri seraya melupakan baban pikiran yang begitu menumpuk bagaikan gunung sampah di Gampoeng Jawa, aku bangun jam 10:00 malam karena lapar dan makanan dalam plastik yang dibelikan oleh si T tadi siang aku lahap sampai tak tersisa sedikitpun sebelum aku lanjut membuat tugas kuliahku.

Malam semakin beranjak larut, sunyi dan sepi terus menggerogoti jiwa ini, kedua mataku sudah mulai terpejam lagi, aku memaksa menenggelamkan diri dalam membuat skripsi tercintaku yang sudah lima bulan tak tersentuh tangan, sesekali aku melihat si T sahabatku yang sudah menghempaskan diri di atas kasur empuk mengambil waktu ustirahat malam di samping meja laptopnya,kebetulan aku menginap di rumah dia. tidak sampai satu jam aku duduk dihadapan laptop, kemudian aku pun kembali mencoba untuk berbaring sejenak berniat melepaskan rasa lelah.

Teng-teng-teng suara alarm smart phone si T di samping bantal guling yang memecah keheningan malam, aku terbangun sejenak dan kumatikan hp sial itu yang mencoba merenggut kenyamanan tidurku sebelum kembali memejamkan mata , selang satu jam para setan pun mulai beroprasi untuk menggangguku mengingat hampir tibanya waktu subuh, bulu kudukku merinding merasakan ada getaran kehadiran makhluk halus itu di sekitarku, dalam hati kecilku terbetik, “Cobaan apalagi ini ya ALLah? Kenapa mereka rela menggangguku yang baru sebentar menikmati istirahat malam ini, mengapa makhluk asral laknat itu tidak mengganggu si T saja yang telah puas menghempaskan diri atas sofa mewah dan penuh mimpi.

"ALLahuakbar-ALLahuakbar terdengar sayup-sayup suara azan di mesjid kampung seberang sana, sedikit jauh dari kami. si T sudah duduk tegap atas korsi pink di samping televisi.  “Hei-hei bangun kamu Even,” koar si T dengan suara keras yang hampir membuat gendang telingaku pecah.

“Iya aku sudah mendengar lantunan azan tadi, kau ini kenapa mambangunkanku seperti itu, malas aku sama kau” gumamku mulai naik darah. Dia melihatku, sorot matanya begitu tajam, “Kamu pergi salat dulu supaya skripsimu nanti tidak banyak yang salah, berdoa sama tuhan biar cepat sidang,” pungkas si T sembari menampakkan kilauan senyumnya.

“Badanku lemas sekali, semalam setan-setan tua itu merampas keberanianku, suara halusnya yang menembus dinding-dinding telinga membuat aku takut dan tidak bisa tidur lelap, kamarmu juga bau menyan membuat tingkat ketakutanku semakin menjadi-jadi” kataku sambil merapikan sepre tidur.

“o... itu bukan mennganggumu, setan itu menganggap kamu kawannya, makanya mereka ingin berkawan, sekarang kamu shalat dulu biar tidak dianggap kawannya lagi,” tambahnya sembari bersembunyi di belakang pintu, karena takut kulempar dengan buah apel sisa makanannya semalam.

Celotehnya seakan mendesakku untuk mengerjakan salat, seraya mata terkantuk-kantuk aku menghentakkan kaki munuju kamar mandi di samping pohon apel si T makan tadi malam untuk menunaikan wuzuk, dinginnya suhu air yang menusuk sampai ketulang membuat tubuhku semakin menggiigil, tapi demi memenuhi kewajiban Ilahi, walau dalam api sekalipun harus saya lewati.

Sempat tergiang dalam pikiranku untuk wuzuk tidak mesti harus dengan air, tayamum pun bisa. karena semua telah aku lakukan akhirnya aku mengayunkan kaki menuju sajadah yang telah dipersiapkan si T auntuk aku mengerjakan perintah Ilahi, aku tidak jadi bertayamum.

Selesai salat, lantas aku kembali melanjutkan tidur dan dengan hanset di telinga mendengarkan sebuah tembang lagu Aceh, `bergek,` tidak lama kemudian cahaya kuning mentari keluar dari ufuk timur, perlahan masuk melalui celah dinding rumahku yang bolong-bolong akibat dimakan usia, suara ayam berkokok kian terdengar jelas, si T yang tadinya tidak tidur lagi ia membangunkanku dengan nada halus sembari tersenyum,karna takut aku naik pitam lagi, “woi... get up men!” (Bangun man) kau harus cepat-cepat merevisi skripsimu itu, kalau tidak, ibu Lasmini dosen bimbinganmu akan berangkat ke negeri Paman Syam lusa untuk berjumpa dengan suaminya.

mendengar pesan si T, Akupun beranjak dari tidurku, segera aku buka laptop. Tak-tik tak-tik suara ketikan memainkan jari-jemari manisku untuk melahirkan huruf-huruf  menjadi tulisan nan indah sembari berharap konsul  besok pagi tidak dicoret-coret  lagi, kemaren skripsiku penuh dengan tarian pena ibu Lasmini dosen pembimbingku, bagaikan sebuah lukisan anak SD.

Mataku berbinar saat mengingat coretan kemaren, terasa kekhawatiran menyeruak dalam hati dan pikiranku, egonya terlalu besar, saban malam aku begadang  demi rampungnya tugas akhir yang telah penuh dengan goresan tangan dosen itu, salahnya seujung kuku, tapi coretannya sampai ke sudut-sudut kertas.

Sambil lelah memikirkan derita, Sesekali terelukis dalam pikiranku indahnya hidup waktu aku masih kecil, dimana aku tidak pernah memikul tugas seberat ini. Malam ini sangat sunyi. Jangkrik sekalipun tak terdengar nyanyiannya kali ini. Bulan tak lagi menyinari.

Dalam hatiku juga bertanya-tanya, “ Kenapa teman-temanku begitu cepat dalam membuat tugas akhir seolah mereka berpacu dengan waktu, apa mungkin karena sikawan-kawan itu dekat dengan dosen ya? Atau karna mereka cerdas, tapi setahu aku mereka biasa-biasa saja, sama seperti jiwaa ini.”

matahari semakin menampakkan wujudnya, rintik-rintik hujan pagi mulai membasahi bumi, rumah si T yang biasanya sepi  menjadi riuh gemuruh suara hujan mengenai atap. dinginnya pagi menyelimuti tubuh ini bagai hidup di daerah salju, aku kembali menekan tombol on pada laptop untuk memperbaiki kesalahan beberapa saat lalu.

Tangan-tanganku menyentuh huruf, yang belum benar kemarin aku hapus dan kugantikan dengan tulisan lain sembari berharap hari ini lebih baek dari kemarin. Tidak lama, sesekali aku melihat keluar jendela, kakak si T membuka kandang, ayam-ayam mulai keluar dari tempatnya beriringan bagaikan hidup di surga dan tanpa dosa, aku semakin gencar mengetik, tanpa sengaja aku melirik ke arah dinding sebelah barat dan terlihat jelas jam sudah menunjukkan angka 07:30 yang berati aku harus berangkat ke kampus dan segera aku akhiri revisi.

Aku ke kamar mandi buru-buru mau mencetak tugas di pupila dan berjumpa dengan dosen yang telah mengajariku banyak tentang kesabaran. Aku berangkat dengan motor dari tempat  tinggal si T, dalam waktu 30 menit sudah tiba di pupila  untuk mengeprint.

“Bang mana print yang bisa saya gunakan?” Tanyaku pada bang amy, kariawan pupila.
“Eh kamu Evendi, kemana aja tidak pernah datang lagi kesini? Macam orang pulang bulan madu aja,” gumam amy sambil melirik gadis berparas jelita yang sudah berdiri lama di samping meja hijau tokonya.

“Ini aku buru-buru bang, mau jumpa dosen di kampus dan aku mau belajar tentang tulisanku ini, mungkin ada yang masih salah,” jawabku sambil merapikan lembar kertas yang sudah aku print.

“Oe... kamu kuliah di mana?” katanya lagi.
“Di kampus KUJAR, jurusan Ilmu politik bang,” jawabku seraya mengambil tas ingin lekas pergi.

Aku berjalan menyusuri langkah mendekati motorku setelah lunas membayar rental dan print, kunyalakan kuda besi kutekan gas habis-habisan demi berjumpa dosen yang sok menjadi manusia setengah dewa itu, aku sudah berada di aula jurusan Ilmu Politik, kuintip melalui celah-celah pintu yang tidak tertutup rapat, ibu itu sedang asik bersama gadgetnya.
Tok-tok-tok aku mengetuk pintu, lantas secara tidak sengaja dia terkejut, dalam sekejap mukanya memerah bak tentara baru turun dari gunung.  

“Kamu kalau masuk beri salam dulu baru ketok pintu,” kata dia, wajah berkerut.
“Maaf bu, saya tidak sengaja," elak ku.
"kau ini buat aku kaget aja,”kata dosen bimbinganku.

“Mau apa kamu ke ruanganku? Aku tidak terima kamu konsul hari ini," lanjut ibu Lasmini dengan suara keras.
“Terus aku bagaimana ini bu, saya tadi malam tidak tidur hanya memperbaiki ini bu,” jawab saya, menenteng skripsi.

“Kamu ini budek apa tuli? Sudah aku bilang tidak ada konsul denganku, kamu mengerti bahasa Indonesia tidak,” bentak dia.
“Ibu jangan seperti itu dong..., aku ini capek malam-malam tidak tidur memaksakan diri membuat ini demi gelar sarjana aku,” jawabku dengan lutut gemetar.

“Hei-hei hei-hei kau ini sudah hebat ya mulai menantang aku, jangan semena-mena ya, aku ambil titel s2 ke Amerika. saya ini hebat, kamu ini hanya sampah masyarakat,” kata dia, sombong bukan kepayang.
“Oeh... yaudah kalau begitu saya manusia juga, kesabaranku ada batas,” gumamku sambil menatap ibu Lasmini walau degup jantunggku semakin berdebar.
"Terserah kamu sajalah," katanya lagi.

Sesaat, Tatapan kosongku mengembara, Aku mumilih menghentakkan  kaki meninggalkan dosen itu, tidak sengaja mataku berkeliaran dan kulihat dosen-dosen lain yang ada dalam ruanggan itu menertawaiku layaknya sebuah drama lucu dalam film sinetron yang dibuat oleh anak negeri untuk menghibur masyarakat. celakanya lagi, ada sebagian koleganya mengejek saat melihatku perang urat saraf tadi dengan dosen tidak tau diri itu.

Cuaca di luar sudah hujan lagi setelah sempat reda waktu aku berlayar ke kampus, aku pulang menerobos air yang berjatuhan dari langit. Mataku berkaca-kaca bercampur rahmat tuhan itu sembari mengingat kesombongan pembimbingku yang tiada tara.

aku sudah tiba di depan rumahku di samping kantor walikota Banda Aceh, aku tidak pulang ketempat si T, kuparkir motorku di tempat biasa di samping pohon kurma tua. Dengan reflek kulihat dari arah barat jalan disamping lorong, satu sosok gadis berjalan berlahan mengayunkan kaki mulusnya, dia berparas putih, rambutnya rebonding, tubuhnya tinggi, matanya kebiru-biruan, pinggulnya bahenol bagai biola spanyol yang dihadiahi oleh pamanku dua tahun silam, Aku menatap manja gadis itu. Kedua mataku tidak sanggup berpaling dari bidadari cantik itu. Sejenak aku melupakan beban yang seakan tidak sanggup aku bawa sendiri.

Lalu aku menyusuri jalan menuju pintu masuk, firasatku lain, kayak ada sesuatu yang berbeda dengan rumahku, terus kutelusuri setiap perubahan, dalam pikiranku tergiang, sebelum aku berangkat sendal-sendal telah rapi tersusun. 

gejolak rasa penasaranku terus meningkat, sementara gemerisik tanya menghantui pikiranku, “Siapa di dalam ya?” Tiba-tiba dari dalam terdengar suara langkah kaki, hatiku berdegup kencang, takut terjadi apa-apa dengan istanaku. Dengan perlahan aku melempar ke atap rumah dengan kayu lapuk di samping tempat parkir motorku, dia tersentak kaget, dari sudut kanan dapur terdengar suara teriakan orang.

”siapa kamu ini, tolong jawab?” kataku sontak.
“Woi apa yang sedang kamu lakukan?” tanya orang yang ada dalam rumahku.
“Kamu siapa?” Ujarku lagi.
“Aku ini si T,” jawabnya dengan nada pelan.
“kenapa kamu tidak bilang dari tadi , kapan kamu masuk rumah ku? aku kira maling, hampir saja aku mengambil sebilah pisau mau ku hajar kamu,” jelas ku.
“Iya maaf deh..., aku sengaja membuat mu kaget, dan aku datang ke sini tadi jam 11:00 saat kamu masih di kampus, oya aku tidak tau kamu sudah pulang" jawabnya si T.

Sempat terlintas dalam otakku, ”kurang pelajaran juga si kawan yang satu ini, taunya aku lagi ada masalah dia malah nambah buat aku sakit kepala, orang lagi susah. Kamu jangan bikin masalah baru,” kataku.

Suara azan dikumandangkan,terdengar alunan merdu nan indah seperti irama padang pasir seolah-olah sedang di mekkah, begitulah terdengar suara lantunan panggilan salat yang sayup-sayup terdengar dibawa angin, waktu sudah mulai masuk siang tandanya sudah bisa menunaikan salat Zuhur, aku bersama si T menginjakkan kaki menuju mesjid yang di dekat warung kopi bang Raban untuk menunaikan wajib.

Lalu, kami berdua kembali ke rumah berniat makan siang, perutpun sudah bunyi cacing.
Kebetulan aku memilih makan dengan menu ikan asin, selang satu menit HPku yang ada di saku celana berdering kencang.

“Iya halo , apa kabar? Aku sedang makan, ini siapa?” tanyaku.
“ Aku Musaddaq. ibu lasmini dosen pembimbing kamu musibah,” katanya.
“hah yang benar kamu Mus, musibah apa?” Ujarku kaget.
“mobil dan segala peralatan yang ada di dalamnya terbakar, terus dia juga cerai dengan suaminya lima hari lalu akibat kedapatan bersms dengan pria lain,”sergah Musaddaq.

Dalam hati kecilku terlintas,”mungkin ini teguran dari ALLah untuknya supaya dia tau bagaimana proses hidup ini, dan agar dia tawaqqal.”

“Evendi aku sedang sibuk ini, udah dulu ya, aku hanya menyampaikan berita ini sama kamu,” tutup Muhammad.
"ya, terimakasih kamu telah memberi tahuku," tutupku.

Hari ini genap usia satu bulan aku tidak pernah pergi ke kampus. cuaca cerah di bawah hamparan alam terbuka aku menyususri tanah dengan jalan setapak semabari mencari udara segar di Lapngan Blang Padang untuk membuat otak kembali kembali refresh, dari kejauhan seorang kariawan kampusku datang dan menghampiriku, rasa khawatir menghinggapi perasaanku, takut ada kabar tidak sedap, dia sudah di depanku dan menekan rem motor bututnya berhenti tepat di hadapanku.

“Apa kabar? Lama tidak pergi ke kampus, ibu lasmini berpesan kepadaku agar kamu menemui dia,” kata Rohmat, salah satu kariawan di kampusku.
“Ok, terimkasih banyak atas infonya, abang baik sekali, pagi-pagi sempat ke tempat saya ,” jawabku, gemetar.

“iya tidak apa-apa, itu tugasku dari kampus, kamu kenapa Evendi kok aneh banget? Kamu takut ya?”
“hehehe tidak..., mana ada takut, Cuma saya sedikit lelah sisa kemaren ikut latihan boxing, makanya begini.”

Cahaya mentari belum penuh keluar dari peraduannya, aku sudah bangun dan mengayunkan kaki menuju kamar mandi, berniat bisa mengindahkan permintaan ibu Lasmini dan segera bertemu dengannya. kali ini aku naek labi-labi, Tak berapa lama Aku sudah sampai di depan gerban, berjalan perlahan menuju ruangan dia, jantungku berdetak kencang, rasa  trauma masih membekas dalam ingatanku.

Dengan sauara sendu “Iya ada apa, ibu memesan saya dari Rohmat,” tanyaku, bercucan keringat dingin.
"Terimakasih kamu telah mau datang ke sini," ketus dosen itu.
"sama-sama bu, karna ibu memesan saya kemeren," 
“Kamu ngapain ke sini hah? Kau ini telah merusak akal sehat ku,” bentak ibu lasmini.
“maaf buk, saya tidak sengaja melakukan itu,” jawabku, mataku menatap ibu lasmini penuh harapan.

“Hehehe Evendi kamu tidak perlu takut, kamu saya panggil kesini bukan untuk saya marahi seperti satu bulan yang lalu, saya minta maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan dulu, ibu sadar, tidak hanya kamu saja yang kecewa denganku, dan ibu sudah tau bagaimana arti kehidupan ini, hidup bagaikan roda berputar, kadang di atas kadang dibawah.

Saya sekarang sudah mengerti Evendi, di atas langit masih ada langit lagi, maafkan ibu ya nak, ibu juga pernah jadi mahasiswa,” tutup ibu Lasmini dengan sedikit kilauan senyum dipaksakan dibibirnya.

mendengar ucapan yang baru saja dari pembibingku, seakan membuat pikiranku tak percaya. Aku merasa ada kelinci melompat-lompat dalam hatiku saat ibu Lasmini yang aku benci itu mengeluarkan kata itu manis itu, sebuah pemandangan aneh dan terasa baru dari mulutnya yang biasa penuh dengan cacian dan kata-kata kasar darinya. Dan sekarang aku happy.

*Teuku Mukhlis, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri








Pahit Manis Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown